Tangis Pilu Ibu di RSUP Kandou Manado Viral, LSM Inakor Desak Menteri Kesehatan Copot Dirut
harianvisusl.com Sulut Manado, 8 Juni 2025 Sebuah video yang memperlihatkan tangisan pilu seorang ibu di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, Sulawesi Utara, menjadi viral di media sosial. Insiden yang diduga terjadi pada akhir pekan lalu ini memicu kecaman publik dan mendorong Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mendesak Menteri Kesehatan mencopot Direktur Utama rumah sakit tersebut.
Video yang tersebar luas itu menunjukkan seorang ibu paruh baya menangis histeris di lorong rumah sakit sambil memegang foto anaknya. Dalam tangisannya, ia menyampaikan keluh kesah tentang pelayanan yang diterima anaknya.
Dari berbagai keterangan yang beredar (meski belum dikonfirmasi resmi secara lengkap oleh pihak rumah sakit), sang ibu diklaim merasa putus asa karena anaknya yang kritis diduga tidak segera mendapatkan tempat di Intensive Care Unit (ICU) padahal membutuhkan perawatan intensif.
Desakan Keras LSM Inakor
Merespons viralnya video dan keluhan tersebut.Rolly Wenas secara khusus menyerukan kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia untuk:
1. Mencopot Direktur Utama RSUP Kandou: LSM menilai kejadian ini mencerminkan kegagalan manajemen dalam menyediakan pelayanan dasar, khususnya di unit gawat darurat dan ICU, serta penanganan keluhan pasien/keluarga.
2. Melakukan Investigasi Independen Mendesak Kemenkes untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap insiden spesifik yang dialami keluarga tersebut serta kualitas pelayanan secara keseluruhan di RSUP Kandou.
3. Memperbaiki Sistem Pelayanan Menuntut perbaikan mendasar dan pengawasan ketat terhadap ketersediaan tempat tidur ICU, responsivitas petugas, serta penanganan pasien kritis di rumah sakit rujukan utama di wilayah Sulawesi Utara ini.
Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Independen Nasionalis Anti Korupsi (INAKOR) Sulawesi Utara, Rolly Wenas, menyebut insiden ini sebagai bukti nyata kegagalan sistemik dalam pelayanan kesehatan publik.
“Tangisan ibu itu bukan sekadar luapan emosi. Itu jeritan rakyat yang kecewa. Kami mendesak Menteri Kesehatan untuk mengevaluasi total dan mencopot Direktur Utama RSUP Kandou,” ujarnya.
INAKOR juga tengah mendalami kemungkinan adanya kelalaian medis dan pelanggaran hak pasien, dengan dasar hukum mengacu pada:
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, khususnya Pasal 29 ayat (1) huruf f, yang mewajibkan rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti-diskriminatif, dan efektif.
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang adil dan berkualitas. “Jika ditemukan pelanggaran, kami siap membawa kasus ini ke ranah hukum,” tambah Wenas.
Di media sosial, diskusi terkait insiden ini terus meluas. Banyak netizen menyuarakan pengalaman pribadi mereka dan menuntut:
* Audit menyeluruh terhadap rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah.
* Perbaikan sistem rujukan, distribusi alat medis, dan kompetensi sumber daya manusia.
* Transparansi dalam anggaran operasional rumah sakit.Informasi awal dari beberapa staf (yang enggan disebutkan namanya) menyebutkan bahwa keterbatasan tempat tidur ICU memang kerap menjadi masalah, tetapi penentuan prioritas pasien dilakukan berdasarkan kondisi medis.
RSUP Kandou merupakan rumah sakit pendidikan dan rujukan terbesar di Sulut, sehingga kerap menangani pasien-pasien berat dari berbagai wilayah. Beban yang tinggi dan keterbatasan fasilitas kerap menjadi tantangan
Video tangisan ibu tersebut telah menyentuh hati banyak warganet dan memicu diskusi luas tentang kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di rumah sakit pemerintah.
Banyak komentar menyampaikan simpati dan dukungan kepada sang ibu, sambil mengkritik keras manajemen rumah sakit yang dianggap gagal melayani masyarakat yang membutuhkan.
Tinggal menunggu waktu apakah desakan keras dari LSM Inakor dan tekanan publik akibat video viral ini akan direspons oleh Kementerian Kesehatan dengan langkah konkret, termasuk kemungkinan pencopotan pimpinan RSUP Kandou atau setidaknya pengawasan dan perbaikan mendesak.
Masyarakat dan keluarga pasien menantikan keadilan dan perbaikan pelayanan.
Sampai berita ini di turunkan belum ada konfirmasi resmi dari pihak rumah sakit
Wisje













