Insiden KM Barcelona Jadi Momentum Refleksi: Surat Terbuka Yusak Walo Kenang Sejarah Pelayaran Manado
Manado – Insiden terbakarnya kapal KM Barcelona di perairan Talise beberapa waktu lalu terus menjadi perhatian publik. Peristiwa ini menimbulkan beragam reaksi, mulai dari rasa prihatin, kritik terhadap aspek keselamatan pelayaran, hingga pro dan kontra mengenai siapa yang harus bertanggung jawab. Perdebatan di tengah masyarakat bahkan kerap diwarnai dengan sikap saling menyalahkan, yang justru menambah rumit persoalan yang ada.
Di tengah hiruk-pikuk opini publik tersebut, muncul suara berbeda dari seorang pemerhati pelayaran asal Nusa Utara, Pnt. Yusak Leman Walo. Anak dari tokoh pelayaran legendaris Zet Walo ini menyuarakan kepedulian dengan cara menulis sebuah surat terbuka. Surat itu bukan hanya respons emosional atas insiden, tetapi juga sebuah refleksi panjang mengenai sejarah perkembangan pelayaran rakyat dan peran penting Pelabuhan Manado bagi kepulauan di utara Sulawesi.
Nama Zet Walo bukanlah sosok asing bagi dunia pelayaran, khususnya di Manado dan Nusa Utara. Sejak era 1970-an, ia dikenal sebagai pionir yang membuka jalur pelayaran rakyat. Usahanya memberikan kontribusi nyata terhadap mobilitas masyarakat serta suplai logistik di kepulauan Sangihe, Sitaro, dan Talaud. Bagi masyarakat kepulauan, Zet Walo bukan sekadar pelaku usaha, melainkan tokoh yang ikut menghidupkan denyut ekonomi kawasan lewat transportasi laut.
Dalam surat terbukanya, Yusak mengungkapkan bahwa pelabuhan Manado sejak dulu memegang peran vital. Pada tahun 1970-an, pelabuhan ini menjadi pintu utama distribusi barang dan logistik. Armada yang digunakan kala itu masih berupa kapal kayu, sebelum kemudian berkembang menjadi kapal berbahan besi dan baja. Perubahan tersebut menandai awal modernisasi pelayaran rakyat di kawasan Nusa Utara.
Memasuki tahun 1980-an, perkembangan pelabuhan semakin terasa. Dermaga beton dibangun, infrastruktur pelabuhan diperkuat, hingga Pelabuhan Manado resmi berstatus sebagai pelabuhan umum. Pada tahun 1983, pengelolaannya pun diambil alih oleh PT (Persero) Pelindo IV, menandai babak baru dalam sejarah pelayaran di Manado. Perubahan itu memberi dampak positif bagi kelancaran arus barang dan penumpang antar pulau.
Namun, Yusak juga menegaskan bahwa seiring berjalannya waktu, semangat pelayaran rakyat justru mulai redup. Ia menilai bahwa insiden KM Barcelona seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tragedi tunggal, melainkan juga momentum untuk mengingat kembali bagaimana sektor pelayaran rakyat pernah tumbuh kuat. Menurutnya, pelabuhan dan kapal rakyat adalah urat nadi bagi masyarakat kepulauan yang hingga kini masih bergantung pada jalur laut.
Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan dan pembinaan yang lebih serius dari pemerintah. Bagi Yusak, keselamatan pelayaran tidak boleh hanya menjadi slogan. Setiap kecelakaan laut harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, mulai dari kondisi kapal, manajemen pengelolaan, hingga regulasi yang berlaku. “Sejarah membuktikan pelayaran rakyat mampu menopang kehidupan banyak orang, maka sudah sepatutnya mendapat perhatian serius,” tulisnya.
Surat terbuka tersebut kini beredar di kalangan pemerhati transportasi laut dan masyarakat Nusa Utara. Banyak yang menilai langkah Yusak Walo sebagai bentuk kepedulian sekaligus pengingat bahwa pelabuhan Manado memiliki akar sejarah panjang yang tidak boleh diabaikan. Bagi sebagian orang, surat itu memberi perspektif berbeda di tengah maraknya tudingan dan saling menyalahkan akibat insiden KM Barcelona.
Pernyataan Yusak juga membuka ruang diskusi lebih luas mengenai masa depan pelayaran rakyat di Sulawesi Utara. Dengan kondisi geografis yang dikelilingi laut, moda transportasi laut tetap menjadi penopang utama konektivitas. Masyarakat berharap pemerintah dan pemangku kepentingan bisa mengambil pelajaran dari sejarah, sekaligus menyiapkan kebijakan yang lebih berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan pelayaran rakyat.
Insiden KM Barcelona mungkin meninggalkan luka, tetapi melalui surat terbuka Yusak Walo, peristiwa ini juga menjadi cermin untuk melihat perjalanan panjang pelabuhan Manado. Sejarah membuktikan, dari kapal kayu hingga kapal baja, pelayaran rakyat tetap menjadi urat nadi masyarakat kepulauan. Kini, tantangannya adalah bagaimana memastikan agar tradisi pelayaran itu tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin maju dengan jaminan keselamatan yang lebih baik.
Wisma













