Kapolsek Singkil Aniaya dan Hina Remaja Salah Tangkap di sebut Sebagai “Monyet”
visualharian.com MANADO*– Seorang Kapolsek di Manado dilaporkan ke Polda Sulawesi Utara (Sulut) atas dugaan penganiayaan dan ucapan rasis terhadap seorang remaja yang ternyata salah ditangkap. Ipda Leonardo Simanjutak, Kapolsek Singkil, diduga memukuli dan menyebut Fatahillah Rahman Ismail (18) dengan sebutan “monyet”.

Insiden bermula Minggu (3/8/2025), ketika anggota Polsek Singkil mendatangi rumah Fatahillah di Kelurahan Wawonasa, Lingkungan II, Kecamatan Singkil. Mereka bermaksud menangkap pemuda yang akrab disapa Ian itu dengan tuduhan terlibat tawuran antar kampung. Ian langsung dibawa ke kantor Polsek Singkil.
Di kantor polisi, Ian membantah keras keterlibatannya dalam tawuran. Namun, alih-alih mendengarkan, Kapolsek Simanjutak justru bertindak arogan. Korban mengalami penganiayaan fisik, dipukul di bagian kepala dan dada, ditampar, serta ditendang oleh sang Kapolsek.
Lebih parah lagi, di tengah penganiayaan tersebut, Kapolsek Simanjutak dengan lantang menghina Ian dengan sebutan rasis “monyet”. Perlakuan tidak terpuji ini terjadi meski Ian terus menyangkal tuduhan.
Belakangan terungkap bahwa polisi memang salah mengidentifikasi. Saat Kapolsek Simanjutak menunjukkan foto pelaku tawuran sebenarnya, wajahnya jelas berbeda dengan Ian. Fakta ini membuktikan bahwa Ian sama sekali tidak bersalah dan merupakan korban salah tangkap.
Menyadari kesalahan fatal tersebut, Ian akhirnya diperbolehkan pulang pada hari yang sama. Namun, trauma fisik dan psikis akibat penganiayaan dan penghinaan rasial telah dialaminya.
Kejadian ini memicu kemarahan keluarga Ian. Orang tuanya, khususnya sang ibu Nurjia, langsung melaporkan Ipda Leonardo Simanjutak ke Polda Sulut. Laporan Polisi Nomor LP/B/515/VIII/2025/SPKT/Polda Sulawesi Utara telah dibuat. Hasil visum pun menguatkan laporan, menunjukkan bekas kekerasan di sejumlah bagian tubuh Ian.
“Sebagai ibu, saya tidak terima dengan apa yang dialami anak saya. Dia dituduh sebagai pelaku tawuran padahal bukan dia, dipukul hingga babak belur, serta dikatakan monyet. Anak saya manusia, kalau dia dikatakan monyet berarti saya sebagai ibunya juga monyet. Kapolsek tersebut sangat arogan,” tegas Nurjia dengan suara bergetar. Ia menuntut Kapolda Sulut sebagai pimpinan tertinggi kepolisian di wilayahnya untuk menindak tegas anak buahnya yang semena-mena itu. Keluarga berharap hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Wisma













