Ratatotok, Minahasa tenggara visualharian.com Pesta Kemewahan di Tengah Luka Sosial: Artis DJ Natalia & penyanyi Mitha talahatu di sorot Usai Terima Saweran dari Bos Bos Tambang Peti Ratatotok
Musik berdentum keras di jalan Raya depan sebuah hotel baru di Ratatotok pada malam akhir pekan itu. Lampu warna-warni memantul di permukaan kaca, menandai peresmian White Hotel, sebuah bangunan mewah yang disebut-sebut milik kel Emor Supit, pengusaha lokal yang dikenal memiliki kaitan dengan aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di kawasan tersebut.
Di atas panggung, DJ Natalia memanaskan suasana dengan dentuman musik elektronik. Namun yang menjadi sorotan bukan hanya musiknya, melainkan aksi saweran uang dalam jumlah besar yang dilakukan beberapa tamu undangan. Tumpukan uang kertas dilempar ke udara, disambut tawa dan sorak-sorai penonton. Rekaman momen itu cepat menyebar di media sosial, memicu gelombang kritik dari warga dan pemerhati sosial.
“Itu seperti pesta di atas penderitaan orang miskin,” kata seorang warga Ratatotok yang meminta namanya tidak disebut. “Banyak keluarga di sini hidup pas-pasan, sementara uang hasil tambang ilegal dibuang begitu saja
Ratatotok selama ini dikenal sebagai wilayah kaya sumber daya emas, namun juga menjadi contoh nyata ketimpangan sosial yang tajam. Di satu sisi, ada kelompok kecil yang menikmati hasil tambang dengan fasilitas mewah dan mobil berharga miliaran rupiah. Di sisi lain, masyarakat lokal bergulat dengan kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan keterbatasan akses ekonomi.
Penampilan mewah DJ Natalia di acara White Hotel, menurut sejumlah pengamat, menjadi simbol mencolok dari jurang sosial tersebut.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ini cerminan dari budaya pamer kekayaan tanpa empati sosial,” ujar seorang akademisi dari Manado yang meneliti isu sosial-ekonomi di wilayah pertambangan. “Ketika uang dari tambang ilegal digunakan untuk pesta, kita sebenarnya sedang melihat moralitas publik yang terkikis.”
Kritik Terhadap Budaya “Pamer Uang”
Fenomena “mandi duit” atau saweran berlebihan di acara hiburan telah lama menjadi sorotan di berbagai daerah, namun konteks Ratatotok membuatnya terasa lebih sensitif. Banyak pihak menilai bahwa tindakan tersebut tidak sekadar soal gaya hidup, tetapi juga bentuk ketidakpedulian terhadap ketimpangan dan keadilan sosial.
“Masyarakat jadi apatis, karena melihat kekayaan yang datang dari jalan pintas justru dipuja,” kata seorang aktivis lingkungan. “Sementara mereka yang hidup jujur terus tertinggal.”
Bayang-bayang Tambang Ilegal
Tambang emas tanpa izin (PETI) di Ratatotok sudah lama menjadi persoalan serius. Aktivitas tambang ilegal tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengalirkan uang dalam jumlah besar ke tangan segelintir orang tanpa pengawasan hukum yang jelas.
Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum berulang kali berjanji menertibkan tambang ilegal, namun praktiknya sulit dihentikan. Di tengah situasi itu, kemewahan acara peresmian White Hotel menjadi ironi yang mencolok — pesta uang di tengah luka sosial dan ekologis yang belum sembuh.
Tim/Red














